Ketika sukses pertama tlah terlampui,dimana jutaaan sperma ,hanya ada satu pemenang yang sanggup membuahi ovum.tibalah saatnya titah manusia ini menjalani ujian hidup di alam kandungan selama 9 bulan 10 hari.
Ketika kita lahir dengan nafas yang sepurna dan tubuh yang sehat ,tibalah saatnya manusia menjalani hidup di alam dunia dengan berlatih mengenali alam lingkungan,ujian yang tiada henti mulai mengenali alam sekitar,mendengarkan ,meraba ,berlatih bergerak hingga saatnya bisa duduk,merangkak,jalan dan berlari...
kini,kita mencari sesuatu yang memang kita cari.....
kita cari pengetahuan dan memang sewajarnya kita minta di uji pencarian kita.
kita olah ragakan diri kita,biarkan oran menilai hasil olahan kita
kita olah hatikan diri kita,dan biarkan orang lain menilai hasil olahan hati kita.
kita olah rasakan diri kita,dan biarkan orang lain menilai hasil olahan rasa kita.
Shobat yg budiman.....
Nilai yang plus dalam diri setiap orang,ketika kita mencapai hasil olahan yang maksimal .
olah pikir,olah raga,olah hati dan olah rasa......
sudah saatnya kita kembali pada ujian kita...
kita buat soal sendiri,kita nialai diri sendiri dan kita potret diri kita sendiri.....
seperti apakah dir kita?
Jumat, 02 Desember 2011
Rabu, 16 November 2011
menangis dalam Lamunan
terasa sesak nafas ini...
begitu melihat sebuah pemandangan yg kasat mata maupun yg tak kasat mata
sebuah drama kehidupan yg berakhir tragis...
drama sudah selayaknya ada pelaku utama dan ada peran pembantu...
ada pahlawan selayaknya james bond ada pesakitan selayaknya tuan Thakur..
di epesode kali ini aku tak bisa membedakan mana james Bondnya dan mana tuan Thakurnya...
yaaa sebuah epesode hukum yg berkeadilan..
ataumungkin lebih dalam hukum yg berkeadilan dan berkemanusiaan...
Sebagai penikmat dan pemerhati drama kehidupan ...
ku ingin melihat sebuah ending yg menyenangkan ...yang berkeadilan dan berkemanusiaan
apa artinya adil tak berperikemanusiaan
kini...
akupun menanti ....
menanti kepastian yg tak kunjung pasti...
namun paling tidak akupun tersadar,ada ukuran baik , jelek. salah benar terang dan gelap.
lantas kemana kita berpaling mencari ukuran pembedanya...
tak lain dan tak bukan ya dari nilai nilai agama..
begitu melihat sebuah pemandangan yg kasat mata maupun yg tak kasat mata
sebuah drama kehidupan yg berakhir tragis...
drama sudah selayaknya ada pelaku utama dan ada peran pembantu...
ada pahlawan selayaknya james bond ada pesakitan selayaknya tuan Thakur..
di epesode kali ini aku tak bisa membedakan mana james Bondnya dan mana tuan Thakurnya...
yaaa sebuah epesode hukum yg berkeadilan..
ataumungkin lebih dalam hukum yg berkeadilan dan berkemanusiaan...
Sebagai penikmat dan pemerhati drama kehidupan ...
ku ingin melihat sebuah ending yg menyenangkan ...yang berkeadilan dan berkemanusiaan
apa artinya adil tak berperikemanusiaan
kini...
akupun menanti ....
menanti kepastian yg tak kunjung pasti...
namun paling tidak akupun tersadar,ada ukuran baik , jelek. salah benar terang dan gelap.
lantas kemana kita berpaling mencari ukuran pembedanya...
tak lain dan tak bukan ya dari nilai nilai agama..
Senin, 14 November 2011
Menangis di pangkuan Lamunan
Senja mulai beranjak
Mendung menyelimuti bumi wonogiri,walau mendung tak berarti hujan.nampak jelas bumi ini makin redup karenanya.
Kegundahan hati tak bisa terelakkan,melihat keadaan begitu cepat berubah .
rasanya baru kemarin orang mengelu elukan bak pahlawan,pejuang yg dengan gigih mempertahankan budaya leluhur tanah jawa .
Aku ingin menangis entah mengapa,aku sendiri tak tau. perkenankan aku menangis sejenak.
menangis dalam lamunan seorang penonton drama yg berkhir tragis.
Aku masih ingat walau samar samar.....
Badan ini ada Raga ada fikiran dan ada Hati....
Aku hanya bisa bicara dengan hatiku,tak bisa bicara lagi dengan fikiranku,apalagi dengan ragaku.
Mendung menyelimuti bumi wonogiri,walau mendung tak berarti hujan.nampak jelas bumi ini makin redup karenanya.
Kegundahan hati tak bisa terelakkan,melihat keadaan begitu cepat berubah .
rasanya baru kemarin orang mengelu elukan bak pahlawan,pejuang yg dengan gigih mempertahankan budaya leluhur tanah jawa .
Aku ingin menangis entah mengapa,aku sendiri tak tau. perkenankan aku menangis sejenak.
menangis dalam lamunan seorang penonton drama yg berkhir tragis.
Aku masih ingat walau samar samar.....
Badan ini ada Raga ada fikiran dan ada Hati....
Aku hanya bisa bicara dengan hatiku,tak bisa bicara lagi dengan fikiranku,apalagi dengan ragaku.
Rabu, 02 November 2011
Guru itu mati di tangan Muridnya
Resi Bargowo,maha guru kang kaloka...
kuncoro sak endenging bawono jroning jagad pewayangan.....
Arum angambar ngambar nganti tumekaning deso ngadeso.
akeh kang podo tumeko pengen ngangsu kawruh lan kadigdayan
Bismo,ora ketinggalan age age dandan ugo pengen ngangsu kawruh marang sang maha guru
jroning ati wus bulat tekate,ora bakal mundur lamun durung entuk kawruh kang migunani tumrapawake.
Yo mesti wae kanti niat kang kuat lan usaha kang tanpo ngrasak ake kesel,Bismo kang bodo dadi pinter.
bismo kang minder margo asale songko karang pradesan dadi Bismo kang anduweni roso kapercayan.
dadi digdoyo margo anggone olah kanuragan....
prasasat jalmo limpat seprapat tamat.
hanamung sak wuse Bismo dadi pinter samubarange,banjur tuwuh sifat kang olo....
Nantang marang gurune adu kasekten....ngene ucape...
Heee bargowo wus tamat anggonku ngangsu kawruh marang kowe,sak iki endi sing kuat ? aku opo kowe.
Yen kowe lanang tenan ayo metu menyang Blabar kawat adu athosing balung uleting kulit.
Kelakon wong loro podo adu kasekten.....
yo mesti wae resi Bargowo kalah margo umur wus dungkap 70 an....
resi Bismo gugur,pejah jrebabah depani bantolo
kuncoro sak endenging bawono jroning jagad pewayangan.....
Arum angambar ngambar nganti tumekaning deso ngadeso.
akeh kang podo tumeko pengen ngangsu kawruh lan kadigdayan
Bismo,ora ketinggalan age age dandan ugo pengen ngangsu kawruh marang sang maha guru
jroning ati wus bulat tekate,ora bakal mundur lamun durung entuk kawruh kang migunani tumrapawake.
Yo mesti wae kanti niat kang kuat lan usaha kang tanpo ngrasak ake kesel,Bismo kang bodo dadi pinter.
bismo kang minder margo asale songko karang pradesan dadi Bismo kang anduweni roso kapercayan.
dadi digdoyo margo anggone olah kanuragan....
prasasat jalmo limpat seprapat tamat.
hanamung sak wuse Bismo dadi pinter samubarange,banjur tuwuh sifat kang olo....
Nantang marang gurune adu kasekten....ngene ucape...
Heee bargowo wus tamat anggonku ngangsu kawruh marang kowe,sak iki endi sing kuat ? aku opo kowe.
Yen kowe lanang tenan ayo metu menyang Blabar kawat adu athosing balung uleting kulit.
Kelakon wong loro podo adu kasekten.....
yo mesti wae resi Bargowo kalah margo umur wus dungkap 70 an....
resi Bismo gugur,pejah jrebabah depani bantolo
Sabtu, 15 Oktober 2011
Selasa, 11 Oktober 2011
Senja di bukit Gandul
Sore itu,selasa hari ke 11 di bulan Oktober tahun ke 2011
mentari perlahan lahan mulai sembunyi di balik bukit,wajah yang renta mulai beranjak dari ladang menuju istana kebanggaannya.
Rumah yang mungkin lebih tepat di sebut gubuk,baginya laksana istana konglomerat penuh dengan glamor glamor kehidupan.
di balik kepenatan,tersirat satu keyakinan menatap hari tua dengan penuh harapan...
meski usia tlah nginjak tahun ke 70 an,Taqdir tlah menggariskan membiayai anak ragilnya yang msh duduk di bangku SMK.
Mestikah kita harus menyalahkan taqdirnya?
suratan itu tlah terpampang olehNya,Realisme.........
kenyataan bukanlah sebuah mimpi.....
keadaan bukanlah angan angan dan program ideal..
ada hiukmah yang terkandung di balik keperkasaan sang bapak yang mulai manula.
ada perjuangan yg tiada akhir dari se oarang bapak...
Ada kebanggaan bagi seorang anak yang tumbuh dan subur dari jerih payah seorang bapak.
Kini...
Tinggallah aku bertanya pada sang anak...
Banggakah kau dengan keadaan yang kini kau hadapi/
Apa justru kau merasa menyesal tlah terlahir dengan kondisi yang ada?
Ku tak bisa menyembunyikan rasa kagumku,pada ke ikhlasan sang bapak dengan perjuangannya.
Bapak,selamat berjuang...
semoga anakmu kelak bisa mengangkat harkat dan martabatmu di hadapan Ilahi Robbi
mentari perlahan lahan mulai sembunyi di balik bukit,wajah yang renta mulai beranjak dari ladang menuju istana kebanggaannya.
Rumah yang mungkin lebih tepat di sebut gubuk,baginya laksana istana konglomerat penuh dengan glamor glamor kehidupan.
di balik kepenatan,tersirat satu keyakinan menatap hari tua dengan penuh harapan...
meski usia tlah nginjak tahun ke 70 an,Taqdir tlah menggariskan membiayai anak ragilnya yang msh duduk di bangku SMK.
Mestikah kita harus menyalahkan taqdirnya?
suratan itu tlah terpampang olehNya,Realisme.........
kenyataan bukanlah sebuah mimpi.....
keadaan bukanlah angan angan dan program ideal..
ada hiukmah yang terkandung di balik keperkasaan sang bapak yang mulai manula.
ada perjuangan yg tiada akhir dari se oarang bapak...
Ada kebanggaan bagi seorang anak yang tumbuh dan subur dari jerih payah seorang bapak.
Kini...
Tinggallah aku bertanya pada sang anak...
Banggakah kau dengan keadaan yang kini kau hadapi/
Apa justru kau merasa menyesal tlah terlahir dengan kondisi yang ada?
Ku tak bisa menyembunyikan rasa kagumku,pada ke ikhlasan sang bapak dengan perjuangannya.
Bapak,selamat berjuang...
semoga anakmu kelak bisa mengangkat harkat dan martabatmu di hadapan Ilahi Robbi
Sabtu, 01 Oktober 2011
Pengorbanan
Kaya,miskin atau mungkin fisik kita adalah sunnah Alloh yg harus kita terima apa adanya.
Termasuk,kisah yang satu ini.
Ahmad,sebutlah begitu.secara ekonomi memang tergolong lemah.
Anak seorang petani,yang lahir di Jawa timur.
Sekolah Dasar tlah dilewatinya,demikian pula pendidikan SMP dan SMA tlh di tamatkannya.
Kini,Ahmad bertekad melanjutkan jenjang pendidikannya ke Universitas terkemuka di Jawa Timur.
Alhamdulillah,lewat UMPTN Ahmad di terima di Perguruan tinggi tersebut.
Senang,haru bercampur baur jadi satu.
Buat Ahmad tak ada kata mundur dalam perjuangan .
namun apa daya kemampuan Ortu yang ekonomi lemah,membuat Ahmad harus berfikir panjang.
Dan kini,di lakonilah kuliah sambil mencari tambahan pendapatan.....
Berjualan keliling dari kampung ke kampung di seputar kampus di mana dia kuliah....
Saban hari habis kuliah pekerjaan itu di laluinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan...
Hingga suatu ketika Ahmad,pernah kehausan yg luar biasa,di tengah tengah menjajakan barang dagangannya.
Diapun memberanikan diri meminta air putih pada seorang Ibu separoh baya.
diminumlah air putih itu hingga terasa nikmat yg luar biasa.
Kini,Ahmad tlah menyandang gelar Dokter spesialis penyakit dalam.
Istri,anak, rumah dan materi tlah tercukupi.
Saat dia sedang tugas,ada laporan bahwa rumah sakit ini menerima rujukan dari rumah sakit yg lain,pasien itu menderita penyakit dalam yg akut.
Ahmad datang memeriksa pasien itu,sorot mata Ahmad tak pernah berhenti memandang pasien dengan penuh tanya.
Apakah ibu tinggal di kampung dekat kampus kuliah saya?
Iya! jawab ibu.
Kenapa pak Dokter kok tanya rumah saya?
Coba Ibu pandang saya baik baik,bukankah Ibu dulu pernah membantu saya,dengan memberi segelas air?
Tak di sangka dokter itu msh ingat.kejadian itu tlah berlangsung 20 tahun yang lalu.
Iya Nak,aku ingat.kini aku sdh tak punya apa apa lagi.
Suami tlah meninggal,rumah sdh aku jual dan anak anakku tlah jatuh miskin karena sakitku.
kini Ibu tinggal menunggu kematian saja.karena sdh tak punya apa apa.
Ibu jangan sedih,semua biaya perawatan sudah ada yang nanggung.
Siapa Nak yg Nanggung?tanya Ibu.
Dr Ahmad Bu, ya saya sendiri......
Termasuk,kisah yang satu ini.
Ahmad,sebutlah begitu.secara ekonomi memang tergolong lemah.
Anak seorang petani,yang lahir di Jawa timur.
Sekolah Dasar tlah dilewatinya,demikian pula pendidikan SMP dan SMA tlh di tamatkannya.
Kini,Ahmad bertekad melanjutkan jenjang pendidikannya ke Universitas terkemuka di Jawa Timur.
Alhamdulillah,lewat UMPTN Ahmad di terima di Perguruan tinggi tersebut.
Senang,haru bercampur baur jadi satu.
Buat Ahmad tak ada kata mundur dalam perjuangan .
namun apa daya kemampuan Ortu yang ekonomi lemah,membuat Ahmad harus berfikir panjang.
Dan kini,di lakonilah kuliah sambil mencari tambahan pendapatan.....
Berjualan keliling dari kampung ke kampung di seputar kampus di mana dia kuliah....
Saban hari habis kuliah pekerjaan itu di laluinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan...
Hingga suatu ketika Ahmad,pernah kehausan yg luar biasa,di tengah tengah menjajakan barang dagangannya.
Diapun memberanikan diri meminta air putih pada seorang Ibu separoh baya.
diminumlah air putih itu hingga terasa nikmat yg luar biasa.
Kini,Ahmad tlah menyandang gelar Dokter spesialis penyakit dalam.
Istri,anak, rumah dan materi tlah tercukupi.
Saat dia sedang tugas,ada laporan bahwa rumah sakit ini menerima rujukan dari rumah sakit yg lain,pasien itu menderita penyakit dalam yg akut.
Ahmad datang memeriksa pasien itu,sorot mata Ahmad tak pernah berhenti memandang pasien dengan penuh tanya.
Apakah ibu tinggal di kampung dekat kampus kuliah saya?
Iya! jawab ibu.
Kenapa pak Dokter kok tanya rumah saya?
Coba Ibu pandang saya baik baik,bukankah Ibu dulu pernah membantu saya,dengan memberi segelas air?
Tak di sangka dokter itu msh ingat.kejadian itu tlah berlangsung 20 tahun yang lalu.
Iya Nak,aku ingat.kini aku sdh tak punya apa apa lagi.
Suami tlah meninggal,rumah sdh aku jual dan anak anakku tlah jatuh miskin karena sakitku.
kini Ibu tinggal menunggu kematian saja.karena sdh tak punya apa apa.
Ibu jangan sedih,semua biaya perawatan sudah ada yang nanggung.
Siapa Nak yg Nanggung?tanya Ibu.
Dr Ahmad Bu, ya saya sendiri......
Langganan:
Postingan (Atom)